Kami Juga Menyediakan Paket Pelatihan, Ghatering dan Konsultan Hubungi Kami : 0831-755-330-72 PIN : 313DBBBE
Dengan segala kerendahan hati, kami mengajak anda untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman dalam hubungan kerjasama. Kami mengharapkan akan terjalin silaturahmi yang erat antar petani jamur dan memberikan keuntungan berupa materi untuk kedua belah pihak. Kerjasama yang kami tawarkan yaitu berupa hubungan investasi.
Hubungan kerjasama investasi ini merupakan layanan unggulan mengingat:
| 1. | Semakin banyak pemilik modal yang ingin bergelut di bisnis Jamur |
| 2. | Investasi awal yang sangat besar untuk memulai budidaya Jamur Tiram secara mandiri dalam skala usaha. |
| 3. | Budidaya jamur tiram memiliki proses yang sangat panjang sehingga tidak mudah dilakukan secara mandiri. |
| 4. | Ketidaktersediaan waktu pemilik modal untuk terjun langsung mengurusi usaha jamur yang didanainya. |
| 5. | Keterbatasan pengetahuan dan keterampilan tentang budidaya jamur tiram. |
| 6. | Keterbatasan informasi pemasaran membuat ragu keinginan pemilik modal berbisnis jamur tiram. |
Keuntungan yang anda dapat dari hubungan kerjasama ini yaitu:
| 1. | Investasi nyata berwujud barang sehingga dapat anda lihat dan pantau. Investasi ini bukan investasi global untuk usaha kami melainkan jelas kepemilikannya karena setiap barang investasi (dalam hal ini baglog produksi) anda dipisahkan dengan milik investor lain. |
| 2. | Kerjasama dibuat dan disepakati di atas surat perjanjian bermaterai. Hal ini bertujuan untuk mengawasi kedua belah pihak yang bekerjasama agar tetap melakukan kegiatan sesuai perjanjian yang telah disepakati. |
| 3. | Silaturahmi kekeluargaan akan lebih diutamakan dalam memecahkan permasalahan yang timbul sebelum beranjak ke tingkat hokum. Hal ini bertujuan untuk memberikan rasa nyama bagi kedua belah pihak. |
| 4. | Anda mendapat pelatihan gratis dengan cara saling berbagi informasi dan terjun langsung dalam kegiatan produksi. Kami mengharapkan suatu saat anda dapat usaha mandiri dan menyerap tenaga kerja di daerah asal anda. |
| 5. | Anda tidak perlu mengeluarkan modal besar dan berepot-repot memulai budidaya Jamur Tiram. Semua fix cost seperti kumbung, alat-alat, tenaga kerja dan pemasaran ditangani secara total oleh tenaga ahli kami. |
| 6. | Anda memperoleh jaminan pemasaran hasil panen. Mengingat permintaan jamur tiram yang semakin meningkat dan jaringan pemasaran kami yang telah luas, hasil panen dari investasi anda insya Allah dapat dipasarkan dengan mudah. |
| 7. | Anda mendapat laporan keuangan investasi secara berkala. Hal ini sebagai transparansi kami kepada anda sekaligus memberi kesempatan bagi anda untuk memantau perkembangan dan menganalisa kelayakan berbisnis jamur secara nyata, bukan hanya coret-coret di atas kertas. |
| 8. | Anda mendapat garansi 1 bulan dari kontaminasi. Insya Allah bibit kami berkualitas unggul sehingga pada saat miselium telah menutup media dengan sempurna dapat meminimalisir kontaminasi. Bila terjadi kontaminasi dalam 1 bulan pertama dalam periode tanam (4 bulan), akan kami ganti dengan baglog yang baru. |
Syarat dan Ketentuan pokok dalam hubungan kerjasama:
| 1. | Anda wajib membeli baglog dari kami minimal 10.000 baglog sebagai modal usaha. Baglog ini merupakan hak anda sebagai barang investasi yang menjadi tanggung jawab kami. |
| 2. | Setiap kilogram hasil panen akan dikenakan biaya Rp. 1000 sebagai jasa pengelolaan investasi anda. Perhitungan usaha dapat anda lihat pada halaman bagian bawah. |
| 3. | Ketentuan lainnya dibicarakan secara tatap muka untuk menghindari kesalahpahaman. |
Resiko bagi Anda
Tidak ada usaha yang tidak memiliki resiko. Namun dengan hubungan silaturahmi yang baik antara anda dan kami diharapkan resiko-resiko itu dapat diperkecil. Sebisa mungkin permasalahan-permasalahan yang timbul dapat diselesaikan dengan saling berbagi informasi dan bertukar pikiran.
Kemungkinan resiko yang dapat timbul yaitu harga jatuh pada saat panen raya jamur. Namun hal ini biasanya tidak berlangsung lama mengingat daya simpan jamur yang sebentar, sekitar 3 hari. selain itu juga karena harga jamur di Jawa relatif stabil.
PERHITUNGAN INVESTASI USAHA
Nilai Investasi Anda
10.000 baglog x Rp. 1.800 = Rp. 18.000.000
Asumsi-asumsi
Potensi produksi minimal tiap baglog: 0.4 kg (rentang potensi 0.4 – 0.6 kg)
Harga jual Jamur Tiram wilayah Jawa: Rp. 7.000 per kg
Biaya jasa perawatan barang investasi: Rp. 1.000 per kg panen
Pendapatan bersih yang akan anda peroleh: Rp. 6.000 per kg
Lama kerjasama investasi dalam 1 periode tanam: 4 bulan
Hasil Panen Total
10.000 baglog x 0.4 kg = 4.000 kg
Pendapatan Total Anda
4.000 kg x Rp. 6.000 = Rp. 24.000.000
Keuntungan Total Anda
Rp. 24.000.000 – Rp. 18.000.000 = Rp. 6.000.000
Keuntungan Anda tiap Bulan
Rp. 6.000.000 – 4 bulan = Rp. 1.500.000
BEP Harga
Rp. 18.000.000 / 4.000 kg = Rp. 4500 / kg
R/C Rasio
Rp. 24.000.000 / Rp. 18.000.000 = 1.33
Demikian rincian penawaran hubungan kerjasama investasi dari kami.
Kami mengucapkan terima kasih atas perhatian anda membaca penawaran ini. Kami tunggu anda di tempat kami untuk melakukan pembicaraan awal sebagai follow up anda menanggapi penawaran ini secara serius.
Apa lagi yang anda ragukan, hambatan-hambatan dibawah ini telah kami berikan jalan penyelesaian khusus untuk anda.
- Cuma punya modal sedikit
- Tidak punya pengetahuan dan keterampilan
- Harus melatih tenaga kerja
- Tidak punya kumbung / rumah jamur
- Tidak punya lahan / lahan sempit
- Tinggal di kota yang udaranya panas
- Tidak tahu pemasaran hasil panen
- Selalu merasa kurang informasi???
Starter F1 Jamur Tiram
| Kemasan | : | Botol kaca volume 300ml (botol sambal) |
| Volume Isi | : | 250ml (4/5 volume botol) |
| Kondisi | : | Misellium 1/2 – penuh botol (Tergantung permintaan) |
| Media | : | Biji-bijian (Full organik) |
| Harga | : | Rp. 50.000,- |
| Ketersediaan | : | Produksi |
Bibit F2 Spec 01 Jamur Tiram
| Kemasan | : | Botol kaca volume 300ml (botol sambal) |
| Volume Isi | : | 250ml (4/5 volume botol) |
| Kondisi | : | Misellium 1/2 – penuh botol (Tergantung permintaan) |
| Media | : | Biji-bijian dan serbuk kayu (Full organik) |
| Harga | : | Rp. 5.000,- (untuk sampel, min 12 botol)Rp. 4.000,- (min 50 botol, khusus JAWA) |
| Ketersediaan | : | Produksi |
Bibit F3 Spec 02 Jamur Tiram
| Kemasan | : | Baglog 35 cm X 20 cm |
| Volume Isi | : | 1500 gram |
| Kondisi | : | Misellium 1/2 – penuh baglog (Tergantung permintaan) |
| Media | : | Biji-bijian dan serbuk kayu (Full organik) |
| Harga | : | Rp. 2,000- (Min order 1000 Baglog) |
| Ketersediaan | : | Produksi |
| Keterangan | : |
|
*Harga belum termasuk ongkos kirim
*Harga sewaktu-waktu dapat berubah
*Minimum order 12 botol, per paket dihitung transport 6 kg
BISNIS JAMUR SANGAT MENGGIURKAN
Kami Juga Menyediakan Paket Pelatihan, Ghatering dan Konsultan Hubungi Kami : 0831-755-330-72 PIN : 313DBBBE
Bingung agribisnis mana yang akan dipilih? Tak ada salahnya bila Anda mencoba usaha tani jamur konsumsi. Menurut H.M Kudrat Slamet, Ketua Umum Masyarakat Agribisnis Jamur Indonesia (MAJI), jenis jamur yang diminati konsumen, yaitu jamur merang (Volvariella volvaceae), jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus), jamur kuping (Auricularia polytricha), champignon (Agaricus bisporus), dan shiitake (Lentinus edodes). Dari kelima jenis jamur tersebut, jamur meranglah yang banyak diusahakan petani. Sebab, dibandingkan jenis jamur lainnya, jamur merang lebih mudah dibudidayakan, dan siklus hidupnya pendek, hanya satu bulan. “Jamur merang mendominasi 55%—60% dari total produksi jamur nasional,” ungkap Kudrat. Peringkat berikutnya adalah jamur tiram putih. Produksi jamur yang pengembangannya mulai dirintis sejak 1997-an itu, sekitar 30% dari total produksi jamur Indonesia. Jamur kayu yang banyak dibudidayakan di daerah berketinggian 800—1.300 m di atas permukaan laut ini mempunyai siklus hidup 5 bulan dengan masa panen 4 bulan.
Tinggal Pilih
Petani jamur merang banyak dijumpai di daerah dataran rendah, seperti di pantai utara Jawa (Pantura). Khususnya di Jabar, sentra produksi jamur merang dapat ditemui di Bekasi, Karawang, Subang, dan Cirebon. Sementara sentra jamur tiram putih berada di Kabupaten Bandung (Cisarua, Lembang, Ciwidey, Pangalengan), Bogor, Sukabumi, Garut, dan Tasikmalaya. Di luar Jabar terdapat di Sleman, Yogyakarta, dan Solo. Untuk jamur kuping, bisa dijumpai di Jateng (Ambarawa dan Yogyakarta), serta di Ciwidey (Kab. Bandung).
Walaupun belum banyak, pelaku usaha jamur champignon, alias jamur kancing, dapat dijumpai di Bumiayu (Jateng) dan Randutatah, Malang (Jatim). Pun untuk jamur shiitake, contoh pelaku usahanya berada di Cibodas, Lembang, dan Malang. Champignon dan shiitake lebih banyak dihasilkan oleh perusahaan besar lantaran diproduksi untuk olahan (kalengan). Sementara jamur merang, jamur tiram putih, dan jamur kuping, lebih merakyat, sehingga banyak dipilih untuk diusahakan.
Bernilai Plus
Menurut MAJI, dalam tiga tahun terakhir, minat masyarakat untuk mengonsumsi jamur terus meningkat. Salah satunya dapat dilihat dari kreativitas para pedagang, yang sebelumnya hanya menjajakan jamur segar, sekarang sudah merambah ke olahan, seperti memproduksi keripik jamur. Kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi jamur berpengaruh positif terhadap permintaan pasokan. “Permintaan jamur terus meningkat, berapa pun yang diproduksi oleh petani habis terserap. Kenaikannya sekitar 20%—25%/tahun,” papar Ir. N.S Adiyuwono, pemilik perusahaan Jamur Sinapeul di Ciwidey, yang mengusahakan jamur tiram dan jamur kuping.
Konsumen, lanjut Adi, menyadari bahwa jamur bukan sekadar makanan, tapi juga mengandung khasiat obat. “Dulu, banyak orang kalau ditawari jamur takut keracunan. Sekarang ada perubahan paradigma, ketika disodori jamur akan bertanya tentang khasiatnya,” imbuhnya.
Selain lezat, dewasa ini orang makan jamur lantaran pertimbangan kesehatan. Jamur mudah dicerna dan dilaporkan berguna bagi para penderita penyakit tertentu. Jamur merang misalnya, berguna bagi penderita diabetes dan penyakit kekurangan darah. Memang, setiap jenis jamur mengandung khasiat obat tertentu (baca: Khasiat Jamur). Jamur mempunyai nilai gizi tinggi, terutama kandungan proteinnya sekitar 15%—20% (bobot kering). Daya cernanya pun tinggi, 34%—89%. Kelengkapan asam amino yang dimiliki jamur lebih menentukan mutu gizinya. Kandungan lemak cukup rendah, antara 1,1%—9,4% (bobot kering), berupa asam lemak bebas mono ditriglieserida, sterol, dan fosfolipida. Jamur juga merupakan sumber vitamin antara lain thiamin, niacin, biotin, dan asam askorbat. Umumnya, jamur kaya akan mineral terutama fosfor, kalsium, dan zat besi.
Belum Terpenuhi
Sampai saat ini jamur lebih banyak diproduksi di Jawa. Berdasar data MAJI, setiap hari Jabar memproduksi 15—20 ton jamur merang dan 10 ton jamur tiram. Sementara jamur kuping, dengan sentra utama Jateng, setiap hari memproduksi 1 ton. Disusul jamur shiitake dengan produksi 500 kg/hari. Sebagian besar produksi jamur dipasarkan dalam bentuk segar. Kota-kota besar menjadi tujuan pasar utama jamur selama ini. Pasar Jakarta misalnya, dipasok dari Karawang, Bandung, Bogor, dan Sukabumi. Dari Cisarua-Bandung saja, setiap hari, tidak kurang dari 3 ton jamur tiram masuk Jakarta. Ir. Misa, M.Sc., petani jamur merang di Karawang, memprediksi, kebutuhan pasar Jakarta terhadap jamur merang sekitar 15 ton/hari. Sementara Karawang baru mampu memasok 3 ton. Untuk jamur kuping terutama diserap pasar Jateng lantaran banyak dibutuhkan industri jamu. Walau demikian, jamur kuping dari Jateng pun masuk Bandung, sehari tidak kurang dari 200 kg.
Selain dijual segar, sebagian pelaku usaha melakukan diversifikasi produk dengan memproduksi keripik dan tepung. Rina di Bandung misalnya, setiap hari memproduksi 50—100 kg keripik jamur tiram. Sampai saat ini dia mengaku belum mampu memenuhi permintaan yang mencapai 500 kg—2 ton. Sementara tepung banyak dibutuhkan industri untuk memenuhi kebutuhan kelompok vegetarian.
Walau banyak dibutuhkan, “Seluruh produksi jamur baru memenuhi 50% dari permintaan pasar,” ucap Kudrat. Belum lagi ditambah permintaan pasar luar negeri, seperti Singapura, Jepang, Korea Selatan, China, Amerika Serikat, dan Uni Eropa (Tabel 1). “Sampai saat ini permintaan itu belum bisa dipenuhi,” imbuh Basuki Rachmat, Sekjen MAJI. Misa yang juga Kepala Pusdiklat Budidaya Jamur Merang Indonesia, pun membenarkan permintaan pasar ekspor belum sanggup terpenuhi. “Untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri saja masih kurang,” imbuh lulusan Teknik Kimia ITB ini yang sudah bertani jamur sejak 1990 lalu.
Harga Stabil
Dibandingkan komoditas lain, harga jamur terbilang stabil. Mungkin lantaran jamur bukan komoditas pokok seperti beras, cabai, maupun bawang merah.
Dalam dua minggu pertama September, harga jamur merang di tingkat petani Rp9.000—Rp10.000/kg (BEP Rp6.000/kg). Selisih harga di tingkat pengumpul lebih tinggi Rp3.000—Rp4.000/kg. Di pasar, harganya menjadi Rp15.000—Rp20.000/kg. “Karena rantai tataniaganya cukup panjang, selama ini keuntungan dari bisnis jamur merang lebih banyak dinikmati para pengumpul,” tandas Kudrat.
Kalau jamur tiram, keuntungannya lebih banyak dinikmati oleh petani. Pengumpul paling memperoleh keuntungan Rp1.000—Rp2.000/kg. Harga jamur tiram di tingkat petani pada kurun waktu yang sama rata-rata Rp5.300/kg (BEP Rp4.000/kg). Di pasar induk Rp6.000/kg (subuh) dan di pasar kecil Rp10.000/kg.
Harga jamur kuping basah di tingkat petani rata-rata Rp6.000/kg. Di pasar Rp8.000/kg. Sedangkan jamur kuping kering berkisar Rp35.000—Rp50.000/kg. Menurut Adi, untuk menghasilkan sekilo jamur kuping kering diperlukan 6 kg yang basah. Sementara itu, Desianto FW, petani jamur kuping di Semarang, Jateng, menyatakan, harga jamur kuping lebih tinggi lagi pada tingkat pengguna akhir. Kisarannya Rp60.000—Rp80.000/kg.
Kendati harganya cukup menggiurkan, ada saat tertentu jamur segar kurang laku, yaitu 1—2 minggu setelah Lebaran. Setelah itu harganya normal kembali. Oleh sebab itu, diversifikasi produk menjadi sangat penting.
Stagnan
Dalam dua tahun terakhir, produksi jamur stagnan, bahkan cenderung menurun. Padahal petani pembudidaya sudah cukup banyak. Petani inti jamur merang sekitar 5.000 orang, jamur tiram 600 petani, jamur kuping 200 petani, dan pengusaha shiitake sekitar 10 pelaku.
Menurut Kudrat, yang mempengaruhi stagnasi produksi lantaran ada sekitar 30% petani jamur merang maupun tiram yangg kolaps karena mereka tidak mampu lagi untuk berproduksi. Ini lebih banyak diakibatkan oleh kesulitan memperoleh bahan bakar minyak tanah karena harganya naik. Padahal, “BBM merupakan 20% dari ongkos produksi,” tandas Adi.
Memang, minyak tanah bisa dikonversi dengan batubara atau kayu bakar. Namun itu bukan hal mudah. “Dulu, saya pernah menggunakan batubara, tapi ternyata panasnya tidak stabil, dan asapnya mempengaruhi kualitas media tanam,” aku Misa. Ditambah lagi, bila menggunakan batubara, selain susah didapat juga menghasilkan limbah debu. Sementara budidaya jamur harus benar-benar bersih.
Selain itu, para petani juga dihadapkan kepada persoalan akumulasi hama penyakit. Di Kabupaten Bandung misalnya, petani dipusingkan oleh serangan cendawan Aspergillus sp. Cendawan ini sangat mengganggu media tanam (baglog) sehingga pertumbuhan jamur tiram terhambat, bahkan mati. Hal ini terjadi saat kemarau panjang atau hujan berkepanjangan. Di lain pihak, “Sekitar 50% biaya produksi terdiri dari media tumbuh,” ucap Kudrat.
Pun di Yogyakarta, para petani jamur kuping kelimpungan oleh serangan hama krepes (tungau). Pengendalian dengan racun akarisida bukan solusi, lantaran jamur merupakan produk organik.
Usaha Sarana
Selain mengandalkan penjualan jamur segar, beberapa petani jamur memilih menjual bibit botolan dan baglog. Kudrat, yang juga pemilik perusahaan jamur CV Citi Mandiri di Cisarua-Bandung, selain memproduksi jamur tiram, pun menjual bibit dan baglog. Dari 15 kumbung yang diusahakan, setiap hari ia memproduksi 10.000 baglog dan bibit botolan.
Demikian pula Adiyuwono yang mulai merintis usaha sejak 2003. Setiap bulan ia memproduksi 100 ribu baglog, 10%—40% diantaranya untuk jamur kuping. Sementara produksi bibitnya sebanyak 30.000 botol/bulan. Bibit ia jual Rp4.000—Rp5.000/botol. Sedangkan baglog jamur tiram dijual Rp1.600 dan Rp1.400 untuk baglog jamur kuping. Selain diserap petani di Jawa, bibit itu dilempar sampai ke Sumatera dan Kalimanatan.
Hal serupa dilakukan Jemy Susanto, pemilik perusahaan Jamur Agro Lestari di Solo. Setiap bulan ia memproduksi bibit F2 1.000 botol dan 20.000 baglog. Bibit dan baglog ini ia pasarkan hingga ke luar Jawa. Jemy mematok harga bibit Rp59.000 untuk Jawa dan Rp69.000 luar Jawa.
Berdasar data MAJI, omzet perdagangan media tanam mencapai Rp4,4 miliar/tahun. Sedangkan omzet perdagangan bibit mencapai Rp750 juta setahun. Adapun omzet perdagangan jamur segar mencapai Rp17,3 miliar/tahun.
Kami Juga Menyediakan Paket Pelatihan, Ghatering dan Konsultan Hubungi Kami : 0831-755-330-72 PIN : 313DBBBE
Komposisi Media Tanam Jamur Tiram (Baglog)
Jamur tiram putih dengan nama latin Pleurotus ostreatus merupakan jamur kayu yaitu jamur yang tumbuh di kayu. Jamur ini memiliki nilai ekonomis tinggi karena dapat dimakan dan memiliki kandungan gizi yang baik bagi tubuh.
Akhir-akhir ini komoditi jamur konsumsi semakin dilirik untuk dikembangkan. Dengan memodifikasi lingkungan tumbuh dan medianya jenis-jenis jamur ini dapat hidup dengan baik dan mendatangkan keuntungan.
Secara budidaya, kita tidak mungkin menanam pada batang kayu karena akan sangat merepotkan. Oleh karena itu media jamur tiram dibuat untuk mempermudah, memaksimalkan kualitas dan kuantitas produksi. Media itu kemudian dibuat dalam kantung-kantung plastik berisi serbuk kayu yang telah dilengkapi komposisi tambahan (baglog). BAG = kantung dan LOG = kayu berbentuk log atau silinder
Berikut merupakan media tanam yang dapat digunakan:
Komposisi I
Serbuk gergaji : 100kg
Bekatul : 10kg
Kapur : 0.5kg
Tepung Jagung : 0.5kg
Air Sumur : 45-60% volume
TSP : 0.5kg
Gipsum : 0.5kg
Komposisi II
Serbuk gergaji : 30krg
Bekatul : 45kg
Kapur : 12kg
Tapioka : 15kg
Air Sumur : 45-60% volume
Hal penting yang menentukan keberhasilan media yaitu jenis kayu. Serbuk kayu albasiah atau sengon sangat baik untuk media. Namun jangan sekali-kali memakai kayu pinus karena dapat dipastikan tidak akan tumbuh. Secara sederhana hindari penggunaan kayu yang bergetah.
Kedua komposisi tersebut dapat digunakan dan sifatnya tidak mutlak. Biasanya masing-masing pembudidaya memiliki komposisi dan idealisme berbeda.
Komposisi pertama memiliki kelebihan yaitu mempercepat pertumbuhan jamur, hasilnyapun rata-rata lebih besar dari komposisi kedua. Keunggulan ini karena pengaruh dari pemberian TSP yang dapat memacu pertumbuhan misellium.
Akan tetapi komposisi pertama memiliki kelemahan yaitu jamur yang dihasilkan lebih berair / lebih lunak sehingga tidak dapat bertahan lama. Hasil komposisi pertama bila dikeringkan rendemennya lebih kecil dibandingkan komposisi kedua.
Kelemahan yang kedua yaitu jenis media ini membuat jamur yang dihasilkan tidak organik. Kesadaran masyarakat akan hidup sehat semakin tinggi, kasyarakat vegetarian akan lebih menghargai keorganikan hasil komposisi kedua. Jamur tidak organik lambat laun akan kalah saing bila bertarung di pasar modern dan tentu saja hal ini membatasi ruang gerak pemasaran.
Penyebab BagLog Jamur Tiram Sulit Berkembang dan Panen
Jamur Lingsie
Suatu ketika ada beberapa pembudidaya jamur yang bertanya mengenai baglog jamur yang dia budidayakan. Pertanyaannya yaitu kenapa baglog jamur yang sudah tumbuh penuh sulit keluar bakal jamurnya. Pertanyaan ini mungkin bisa diperjelas lagi, yaitu baglog sulit keluar jamur pada awal pembukaan dan lamanya rentang antar panen pada baglog jamur. Penyebab pemasalahan ini bukan hanya pada petani yang membudidayakan baglog jamurnya, tapi juga pada proses pembuatan baglog jamur, yaitu pada petani penyedia baglog jamur.
- Permasalahan yang disebabkan oleh pembudidaya baglog jamur yaitu karena rumah/kumbung jamur kurang ideal untuk pertumbuhan jamur. Bisa dikarenakan desain kumbung jamur yang kurang tepat, antara lain:
1. Atap kumbung terlalu rendah, sehingga ruangan menjadi pengap/ sumuk dan akan mudah meningkatkan suhu ruangan. Artinya kondisi ruangan tidak memenuhi syarat tumbuh jamur. Kecuali jika pendirian kumbung berada di bawah pohon yang teduh dan rindang.
2. Kumbung jamur terlalu gelap karena tertutup rapat tanpa sirkulasi, hal ini akan menghambat pertumbuhan pin head/ bakal jamur. Pada masa pertumbuhan jamur pada baglog, butuh pencahayaan sebesar 10-15 %. Bukan sinar matahari langsung yang masuk ke dalam kumbung.
- Sedangkan bagi pembudidaya jamur, perlu dilakukan perawatan baglog secara rutin selama masa produktir. Lakukan pembukaan pada bagian depan baglog, baglog yang dibuka adalah baglgo yang pernah panen minimal 1 kali, tampak seperti gambar dibawah:
Baglog dengan bukaan depan
Baglog dengan bukaan depan (2)
Lakukan selalu peremajaan pada bagian baglog yang rusak/ kotor, yaitu dengan membersihkan bagian yang rusan sampai terlihat bagian baglog yang putih. Tujuannya adalah untuk memicu pertumbuhan bakal jamur lagi. Pembukaan seperti diatas bisa dilakukan bila kondisi suhu dan kelebaban bisa dijaga ideal, karena jika tidak (suhu lebih dari 28′C dan kelembaban kurang dari 70%) akan menyebabkan terjadi penguapan yang tinggi yang mengakibatkan baglog menjadi kering. Jika tidak memungkinkan untuk melakukan pembukaan, anda bisa melubangi atau menyobek (sambil dilukai baglognya) seukuran 1×1 cm sebanyak 2-4 bagian pada sisi depan dan belakang. Hal ini bisa mengurangi penguapan yang tinggi.
- Dan terakhir, pada proses pembuatan baglog jamur. Dari pengamatan dan studi banding yang telah kami lakukan, bahwa baglog jamur akan mengalami kesulitan pada pertumbuhan pih head/ bakal jamur pada awal panen dan pada pertumbuhan berikutnya dikarenakan serbuk kayu yang dipakai dalam pembuatan baglog masih belum benar benar lapuk. Hal ini akan menghambat penyerapan nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bakal jamur. Ada beberapa tanda dan akibat dari pemakaian serbuk yang masih mentah/ belum lapuk, antara lain:
1. Pada permukaan baglog akan tumbuh daging berwarna kekuning kuningan ( ngoncom), dan akan tampak jika baglog sudah mulai dipenuhi miselium jamur.
2. Keluarnya pin head/ bakal jamur sejak pembukaan pertama sangat lama, antara 3-4 minggu, padahal idealnya 1-2 minggu sejak pembukaan.
3. Jarak panen dengan panen sebelumnya sangat lama, bisa jadi tidak panen lagi dan baglog akhirnya menjadi membusuk, padahal masih dalam masa produktif.
4. Baglog tidak bisa berwarna putih pekat seperti tempe.
5. Jamur yang tumbuh akan layu dan kering sebelum waktunya panen. Hal ini disebabkan penyerapan nutrisi pada baglog kurang optimal, karena serbuk yang belum lapuk akan sulit untuk diuraikan menjadi makanan bagi jamur.
Oleh sebab itu, usahakan agar serbuk kayu yang dipakai dalam kondisi melapuk, adapun cara untu melapukkan adalah:
1. Biarkan serbuk kayu di tumpukan luar atau yang sudah dibungkus glangsing selama minimal 3 minggu, agar terjadi pelapukan alami. Bisa dibantu dengan menyirami serbuk dengan air dengan tujuan agar resin/ getah kayu bisa larut ke bawah, sehingga pelapukan semakin cepat.
Pelapukan serbuk kayu
2. Lakukan pengomposan/ fermentasi pada media baglog yang sudah diacampur dengan bahan lain dan sudah diraduk dengan air. Waktu pengomposan selama minimal 3 hari. Caranya, tutup rapat saduran tadi dengan plastik atau apapun yang bisa buat nutup. Seperti gambar diabawah ini:
Bahan campuran baglog jadi satu
Proses penyaduran
Proses pengomposan, tutup rapat
Selamat mencoba!!!
Kalo ada masukan bisa sharing ya…
Kami Juga Menyediakan Paket Pelatihan, Ghatering dan Konsultan Hubungi Kami : 0831-755-330-72 PIN : 313DBBBE